Peluang Usaha : Melissa meniti kesuksesan dengan lukisan tangannya

Posted by Salman binustech Kamis, 21 November 2013 0 komentar
Bagi Melissa Sunjaya, Tulisan bukan sekadar bisnis untuk mengejar omzet besar. Lewat berbagai kreasinya, dia ingin karya tangan dari Indonesia bisa bersanding dengan produk sejenis dari merek terkenal luar negeri.
Penghargaan pada proses yang bersih dan jujur dalam sebuah karya seni tangan, jadi salah satu tujuan Melissa Sunjaya membangun Tulisan. Melalui goresan tangan nan cantik pada karya-karyanya, perempuan 39 tahun ini ingin produknya menjadi kebanggaan Indonesia dan bisa dikenang konsumen hingga ke anak cucu mereka.
Terlahir dari keluarga yang lekat bakat seni, sedari  kecil Melissa sudah akrab dengan proses berkreasi. Kegemaran neneknya menjahit serta  hobi sang ibu untuk mendekorasi rumah dengan pernak-pernik buatan sendiri, menginspirasi Melissa membuat produk bikinan tangan.
Sejurus dengan cita-citanya, Melissa pun banyak menempuh studi terkait seni. Hingga pada 2010, bersama ibunya, lulusan Art Center College of Design, Pasadena, California, Amerika Serikat (AS) ini mengawali Tulisan. Bermodal Rp 5 juta, dia membeli 100 yard katun kanvas murni di sebuah toko dekat Pelabuhan Sunda Kelapa.
Sejak awal, Melissa memang berusaha konsisten membuat  produk berkualitas tinggi. “Kanvas itu kualitas ekspor nomor satu, yang harganya sangat mahal,” ujarnya. Tak heran, ia sangat efektif saat memotong pola dan tidak meninggalkan sisa kain sedikit pun.
Selain bahan berkualitas, produk Tulisan juga punya nilai seni tinggi. Ilustrasi tangan jadi keunikan dari produk bikinan Mellisa ini dan sekaligus kekuatannya. Tak sekadar menjadi hiasan, ilustrasi itu kaya makna dan merupakan rangkaian cerita, imajinasi Mellisa  terhadap alam dan kehidupan sehari-hari.
Awalnya, Tulisan hanya membuat tiga produk, yakni tea towel, celemek (apron), dan sarung bantal. Dengan bantuan tiga karyawan, Melissa menyablon bahan secara manual dan menjahit sendiri semua produknya. Garasi rumah pun disulap menjadi workshop Tulisan.
Untuk memasarkan produk Tulisan, Melissa aktif mengikuti bazar, terutama yang membidik  komunitas ekspatriat, karena tujuannya mewujudkan karya ini jadi kebanggaan Indonesia. “Dua kali sebulan, selalu ada bazar. Lalu, kami booking tempat untuk setahun ke depan,” tutur Melissa.
Rutin mengikuti bazar, Melissa pun giat mematangkan proses produksi. Setelah mendapat sejumlah pelanggan, tahun 2011, ia memutuskan hanya ikut bazar di Darmawangsa Square. “Sesudah berkeliling, kami fokus di satu tempat supaya orang tahu di mana mencari Tulisan,” jelasnya.
Pada tahun yang sama, Tulisan akhirnya menempati salah satu gerai di pusat belanja tersebut. Saat punya gerai sendiri itu, Melissa juga memperkuat usahanya dengan badan hukum Perseroan Terbatas (PT).

Tembus pabrik besar
Dengan menempati gerai sendiri dan berbadan hukum, bisnis perempuan kelahiran Jakarta, 21 Juli 1974 ini kian mantap. Selain terus meningkatkan kualitas produksi, Melissa juga menambah lini produknya setiap tahun. “Kami selalu memperbarui metode-metode dalam memproduksi barang,” kata dia.
Salah satunya adalah pemilihan bahan baku. Lantaran ingin produknya bisa bersanding dengan produk sejenis merek luar negeri, ia mengutamakan spesifikasi bahan baku yang berkualitas dan ramah lingkungan. “Tapi, bahan dan proses produksi semua harus 100% Indonesia,” katanya.
Proses pewarnaan pun dikembangkan sendiri oleh tim riset Melissa. Demikian pula kanvas. Melissa tak segan memakai kanvas mahal tanpa pemutih yang ramah lingkungan. “Di Indonesia, hanya kami yang pakai kanvas itu,” ujar dia.
Melissa teringat, perjuangannya saat menembus produsen kanvas dua tahun lalu. “Kami harus punya sejarah produksi yang terlihat oke bagi mereka,” kenang ibu dua anak ini. Maklum, mayoritas pembeli pabrik kanvas itu adalah perusahaan besar kelas dunia.
Melissa juga harus kerja keras saat meyakinkan YKK Indonesia, produsen resleting dan aksesori, waktu memesan resleting dengan warna atau potongan khusus. “Lumrah kalau mereka deg-degan karena kami adalah pemain baru. Mereka kan harus investasi,” ujar dia.
Selain itu, dari waktu ke waktu, Melissa tak berhenti menyempurnakan sistem produksi dan bisnisnya, untuk mengakali cash flow karena belum memperoleh pinjaman bank. Makanya, “Saya harus mempunyai infrastruktur yang solid, mulai dari tenaga kerja, produksi hingga pemasaran,” kata dia.
Namun, kini, Melissa mulai mencecap manis kerja kerasnya. Produk Tulisan makin dikenal. Selain dipasarkan di Indonesia, Tulisan juga dikirim ke luar negeri, baik melalui online shop, maupun toko-toko yang tersebar di AS, Swiss, Jerman, Hong Kong, Jepang, Taiwan dan Singapura.
Alhasil,  pertumbuhan bisnis dan omzet pun terus melambung. Tahun lalu, Tulisan mencetak omzet Rp 5,85 miliar, naik hampir empat kali lipat dari hasil yang dibukukan selama 2011, yaitu Rp 1,2 miliar.  Dengan 21 karyawan, produk Tulisan sudah berkembang hingga 70 item, yang terbagi dalam lima kategori.   

Sumber  : http://peluangusaha.kontan.co.id/news/melissa-meniti-kesuksesan-dengan-lukisan-tangannya/2013/11/14

Baca Selengkapnya ....

Peluang Usaha : Peluang Usaha Mencicipi Manis Laba Kemitraan Martabak

Posted by Salman binustech 0 komentar
Peluang Usaha Martabak ManisMartabak termasuk kudapan favorit orang Indonesia. Lantaran punya banyak penggemar, peluang usaha martabak pun terbuka lebar. Tak heran, banyak orang tertarik merambah usaha
martabak.
Salah satunya adalah tiga sekawan Ika Hendrani, Ira Lathief dan Budiyono yang mengusung brand D’Marco Café di Jakarta Pusat. Bisnis martabak berkonsep kafe ini sudah berdiri sejak Mei 2012.
D’Marco Café menawarkan martabak dalam berbagai pilihan rasa seperti martabak cheeseberry, chocobana, cheese oreo, dan martabak pizza. Selain menawarkan martabak sebagai menu utama, D’Marco juga menyediakan makanan lain, seperti roti bakar, mi goreng dan kentang goreng. Beragam makanan di kafe ini dibanderol mulai harga Rp 12.000 – Rp 28.000 per porsi.
Untuk minumannya tersedia juga aneka racikan kopi sebagai teman menyantap martabak. Untuk mengembangkan usahanya, D’Marco resmi menawarkan kemitraan sejak Mei 2013. Saat ini, D’Marco baru punya satu gerai milik sendiri. Namun, “Kami sudah punya beberapa calon mitra, salah satunya di Kalimantan,” ujar Ira Lathief.
Ada tiga paket investasi yang ditawarkan D’Marco. Pertama, paket kios dengan biaya Rp 35 juta. Mitra akan mendapatkan portable booth, peralatan masak, bahan baku awal, seragam, dan pelatihan karyawan.
Kedua, paket mini kafe ditawarkan dengan biaya Rp 65 juta. Mitra akan mendapatkan portable booth, peralatan masak, mesin penyimpanan, alat barista, neon boks, bahan baku awal, seragam dan pelatihan karyawan.
Adapun paket kafe ditawarkan senilai Rp 115 juta. Fasilitasnya sama dengan paket mini kafe. Mitra mendapat tambahan sistem komputerisasi. Masa kerjasama untuk kemitraan masing-masing paket adalah lima tahun.
Balik modal setahun
Ira menjanjikan mitra bisa balik modal dalam waktu dua belas bulan. Asumsinya, mitra meraup omzet Rp 50 juta – Rp 150 juta per bulan. Sementara, laba bersih dari bisnis ini diproyeksikan minimal 20%. “Sewa tempat juga mempengaruhi nilai profit per bulan,” ujar Ira.
Meski tidak memungut biaya royalti, D’Marco mewajibkan mitranya untuk membeli bahan baku utama dari pusat. Biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan baku sekitar 40% - 50% dari omzet per bulan. D’Marco menargetkan bisa menambah sekitar delapan gerai baru hingga penghujung tahun depan.
Pengamat waralaba dari Pietra Sarosa Consulting Group, Pietra Sarosa mengatakan, bisnis kafe yang menjadikan martabak sebagai menu utama sangat menarik karena terbilang baru. Cuma, kata Pietra, D'Marco harus bisa menyesuaikan tampilan kafe dan menu sehingga layak untuk dijajakan sebagai makanan kafe.
Menurutnya, D'Marco tidak perlu menawarkan paket gerobak. "Karena akan sulit bersaing dengan martabak pinggir jalan yang sudah dikelola langsung oleh si pemiliknya,” kata Pietra.

Baca Selengkapnya ....

Peluang usaha: Rupiah dari mengotak-atik potret wajah

Posted by Salman binustech Rabu, 13 Maret 2013 0 komentar
Mungkin Anda pernah melihat foto wajah orang terkenal dalam spanduk, poster, atau kover album, yang disusun  dari potongan-potongan warna bervariasi dan artistik. Foto tersebut tampil unik dan berbeda dari gambar atau foto biasa. Inilah hasil dari seni pop art yang mulai digandrungi di Indonesia belakangan ini.
Berbeda dengan teknik digital printing biasa, pengerjaan pop art kental unsur desainnya. Pop art mengilustrasikan potret manusia menggunakan garis-garis yang tegas dipadu dengan permainan warna yang semarak.
Selanjutnya, seperti pada gambar biasa, hasil ilustrasi tersebut bisa dituangkan pada berbagai media, seperti tembok, kanvas, kaus, mug, atau pin. Sejatinya, seni pop art sudah dikenal sejak medio 1950-an di Inggris.
Nah, seni ilustrasi ini mulai masuk ke Indonesia pada 1990. Adalah sosok Wedha Abdul Rasyid yang serius mengembangkan seni ini, bersama komunitas Wedha's Pop Art Portrait (WAPP) yang dibentuknya di Jakarta. Pakem yang diusung WAPP yakni ilustrasi tidak menggunakan lengkung, melainkan garis yang tegas, dan pengaturan komposisi warna sekunder dan tersier.
Rupiah dari mengotak-atik potret wajah
Meski sudah berkembang beberapa tahun terakhir, namun belum banyak yang tahu bahwa seni pop art ini bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Salah satu yang berhasil mendatangkan fulus dari seni pop art adalah Indira Yuniarti. Mahasiswi PDC Telkom, Bandung, ini memberanikan diri membuka d'GreeNomad Art sejak setahun lalu.
Dia menawarkan jasa pembuatan poster kartun vektor dan pop art. Kemampuannya membuat pop art terasah lantaran sejak kelas 3 SMU sudah bergabung dalam komunitas WAPP. Dia pun sudah mengantongi sertifikat dari WPAP Community, komunitas tempat berkumpulnya para seniman pop art.
Namun, lantaran masih sambil kuliah, omzet bisnisnya belum besar. “Semua pesanan saya kumpulkan dulu, dan dikerjakan pada akhir pekan,” ujar Indira.
Biasanya, pelanggan yang berminat cukup mengirimkan potret wajah yang diinginkan. Pemesan bisa memilih untuk memesan versi hard copy atau soft copy. Versi soft copy dihargai Rp 50.000 per wajah. Sedangkan jika menginginkan versi hard copy, Indira akan menambahkan ongkos cetak dan kirim yang besarnya bervariasi tergantung dari ukuran dan lokasi.
Dia mengaku, dalam seminggu, bisa mendapat sekitar 9-10 pesanan. Dalam sebulan omzetnya sekitar Rp 2 juta. "Lumayan, ini bisnis sambilan. Ke depan, saya akan serius menggeluti usaha ini," ungkapnya.
Pasalnya, dia melihat peluang bisnis pop art ke depan berpotensi besar. Sekarang ini, karya seni Wedha's Pop Art Portrait  banyak diminati anak-anak muda. "Belum lagi semakin banyak promosi dan event yang butuh jasa pop art. Misalnya, Maret ini, ada event Kampung Jazz Universitas Padjadjaran, di mana WPAP Community yang membuat desain official t-shirt acara itu," ujar Indira.
Memang, saat ini, media yang digunakan Indira masih terbatas pada kertas dan digital, namun dia optimistis, ke depan bisa berkembang seperti halnya WPAP Community. Asal tahu saja, hasil ilustrasi pop art yang dibuat di WPAP sudah bisa dicetak dalam beragam media, mulai dari kanvas hingga berbagai suenir atau  merchandise seperti kaus, gelas, dan pin.
Sekarang, Indira rajin berpromosi melalui jejaring sosial seperti blog, Twitter, dan Facebook. "Pelanggan saya masih dari sekitar Jakarta, Bandung, dan Jogja,” imbuhnya.
Pemain lain di bisnis pop art adalah Ageng Raditya di Tangerang, Banten. Lulusan komunikasi visual Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, ini sudah menggeluti bisnis pop art sejak tiga tahun silam. “Sebenarnya dari 2006 saya sudah terjun di bisnis ilustrasi, tapi baru di 2010 fokus pada gaya ilustrasi pop art,” katanya.
Menurutnya, pop art cenderung menggunakan warna-warna solid dan berkilau, sehingga hasilnya memikat orang. Inilah yang membedakan pop art dari gambar ilustrasi biasa.
Ageng biasanya akan meminta foto calon klien. Dari potret asli itu kemudian dia membuat dimensi-dimensi gambar. Bentuk wajah, seperti letak mata, hidung, dan bagian muka yang lain akan tampak melalui dimensi ini. Lalu, dia membuat colour ambience atau nuansa warna seperti keinginan pelanggan.
Semua dikerjakan dengan menggunakan grafik tablet Wacom yang dikombinasikan dengan Photoshop. Dalam sebulan, Ageng mengaku, bisa mengerjakan 10 pop art yang dituangkan dalam beragam media, namun mayoritas di kanvas. Dia juga kerap membuat pop art dari figur publik, seperti Jokowi, sebagai stok.
Dia mematok tarif Rp 300.000 untuk satu desain pop art yang bisa dicetak di kanvas berukuran A3. Biasanya, klien Ageng minta pop art sekaligus dibingkai. Jadi, untuk tiap karyanya, dia membanderol Rp 500.000. Omzetnya bisa mencapai Rp 5 juta dalam sebulan.
Ageng memasarkan karya-karyanya melalui internet. Kadang, dia mengikuti pameran seni. Dari situ, pesanan pop art lantas meningkat dan namanya kian dikenal. Kini, pelanggannya tersebar dari berbagai wilayah, seperti Jakarta, Surabaya, hingga Aceh.
Pemain lain, Joko Hartono terpikat menggeluti bisnis pop art lantaran diperkenalkan oleh teman seniman asal Singapura yang berkunjung ke Bali. Makanya, sejak 2010, pria lulusan ilmu desainer di Teknologi Informasi STIKOM Surabaya ini memutuskan menjadi perwakilan Personal Art di Indonesia.
Sekadar catatan, Personal Art adalah perusahaan yang menggeluti seni pop art dengan markas utamanya di Singapura. Menurut Joko, gaya pop art yang diusung Personal Art terinspirasi langsung dari seniman pop art Amerika Serikat era 1960-an, Andy Warhol. “Namun setelah membuka pasar di Indonesia, Pak Wedha juga menjadi salah satu inspirasi kami dalam berkarya,” ujarnya.
Sayang, dia bilang, karena pop art baru berkembang di Indonesia, sehingga peminatnya belum sebesar di negara lain seperti Singapura dan negara-negara Eropa. Joko mengaku, paling banyak dia bisa meraup omzet Rp 4 juta sebulan. Itu juga saat ada momen spesial, seperti hari raya dan Valentine.
“Rata-rata yang pesan pop art, karena mau memberi kado. Pop Art itu unik, wajah orang 100% bisa tampil beda, tanpa meninggalkan raut aslinya. Jadi, cocok sebagai hadiah spesial,” ungkapnya.Lantaran pesanan dari dalam negeri masih sepi, keempat karyawan Joko kerap mengerjakan pesanan dari cabang Personal Art di negara lain.
Joko memasang tarif yang berbeda untuk setiap jasa yang dikerjakan, sesuai dengan media output. Yang termurah, yaitu poster berukuran 20 cm x 20 cm dibanderol Rp 98.000. Adapun yang termahal di medium kanvas ukuran 12 cm x 160 cm dengan tarif Rp 435.000.
Selain lebih gencar berpromosi, Joko juga berencana menambah pilihan gaya pop art supaya lebih menarik pelanggan. Dia akan membuat pop art yang mengusung teknik vektor. Dengan teknik ini, foto akan lebih presisi karena tidak memiliki piksel yang bisa membuat gambar pecah.     

Sumber : http://peluangusaha.kontan.co.id/news/rupiah-dari-mengotak-atik-potret-wajah

Baca Selengkapnya ....
| Copyright of Informasi Peluang Usaha.